Binanews.id | Bogor — Kelompok 22 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor resmi memulai pengabdian kepada masyarakat di Desa Leuweungkolot, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Senin (3/8/2026).
Pembukaan KKM menjadi momentum awal bagi mahasiswa untuk memperkenalkan diri sekaligus membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut dihadiri mahasiswa KKM Kelompok 22, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Fatchiatul Zahro, pemerintah desa, perangkat wilayah, tokoh masyarakat, serta sejumlah unsur masyarakat Desa Leuweungkolot.
Fatchiatul berpesan agar mahasiswa tidak memandang kegiatan KKM sekadar sebagai kewajiban akademik.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat harus dibarengi dengan sikap rendah hati, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk belajar dari lingkungan tempat mereka mengabdi.
“Ketika berada di tengah masyarakat, jangan merasa bahwa mahasiswa datang sebagai orang yang paling tahu. Justru kita datang untuk belajar, mendengar, kemudian bersama-sama mencari apa yang bisa dilakukan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga sikap dan etika selama menjalankan seluruh rangkaian kegiatan KKM.
Pasalnya, selama berada di desa, mahasiswa tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama IUQI Bogor.
“Jaga sikap, jaga komunikasi, dan jaga nama baik almamater. Apa yang kita lakukan di masyarakat akan menjadi bagian dari penilaian masyarakat terhadap kampus kita,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian penting dalam pelaksanaan KKM 22. Mahasiswa didorong untuk membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sebelum menjalankan berbagai program kerja yang telah disiapkan.
Pembukaan KKM juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mulai mengenali kondisi Desa Leuweungkolot. Berbagai potensi, kebutuhan, kebiasaan, serta persoalan masyarakat menjadi bagian yang perlu dipahami sebelum program dilaksanakan.
DPL KKM 22 menekankan agar mahasiswa tidak memaksakan seluruh program hanya berdasarkan gagasan yang telah dibuat sebelum terjun ke lapangan.
“Program yang baik bukan hanya program yang terlihat bagus di atas kertas. Yang lebih penting adalah apakah program itu dibutuhkan dan bisa diterima oleh masyarakat,” katanya.
Karena itu, mahasiswa diminta membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, kader, hingga masyarakat secara umum.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat pelaksanaan KKM tidak berjalan satu arah. Mahasiswa dapat menyampaikan gagasan sekaligus menerima masukan dari masyarakat yang memiliki pengalaman langsung mengenai kondisi lingkungannya.
KKM IUQI Bogor tahun ini mengusung tagline “Bergerak, Serempak, Berdampak”.
Tagline tersebut menjadi semangat Kelompok 22 dalam menjalankan pengabdian di Desa Leuweungkolot.
“Bergerak” diwujudkan melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam berbagai kegiatan masyarakat. Mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir ketika menjalankan program kerja, tetapi juga mampu membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
Kemudian, “Serempak” menekankan pentingnya kolaborasi. Berbagai program KKM membutuhkan dukungan dan keterlibatan masyarakat agar dapat berjalan secara efektif.
Sedangkan “Berdampak” menjadi harapan agar kehadiran mahasiswa mampu memberikan manfaat, meskipun dalam bentuk sederhana, bagi masyarakat Desa Leuweungkolot.
Bagi mahasiswa, KKM juga menjadi ruang pembelajaran di luar lingkungan kampus. Ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dapat diterapkan secara langsung, sementara kehidupan masyarakat memberikan pengalaman baru yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Interaksi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, sekaligus memahami nilai-nilai sosial dan kearifan lokal yang hidup di masyarakat.
Keberhasilan KKM pun tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Hubungan yang terbangun, keterlibatan masyarakat, serta manfaat yang ditinggalkan menjadi bagian penting dari proses pengabdian.
Dengan dimulainya rangkaian KKM di Desa Leuweungkolot, Kelompok 22 IUQI Bogor berkomitmen menjalankan kegiatan dengan penuh tanggung jawab, menjaga etika, serta membangun kolaborasi bersama masyarakat.
Semangat “Bergerak, Serempak, Berdampak” diharapkan dapat menjadi pijakan mahasiswa selama menjalankan pengabdian, sehingga KKM bukan sekadar agenda kampus, melainkan proses belajar bersama yang meninggalkan manfaat bagi masyarakat.
Editor : Fathurroji









