Antara Mencari dan Menunggu, Dua Kata Penafsiran Berbeda dalam Memahami Jodoh

Oleh : Teddy Khumaedi (Dosen Universitas Islam Bogor)

Tedy

- Redaksi

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Memahami keinginan dan kehendak tentu berbeda, dua kata seolah sama tapi memiliki makna yang berbeda. Keinginan selalu berangkat dari sesuatu yang di inginkan berasal dari apa yang dilihat oleh panca indera entah penglihatan dalam keseharian atau pun penglihatan yang bersifat kadang-kadang. Sedangkan pengertian kehendak senantiasa muncul dari hati paling dalam namun selalu mempertimbangkan kadar kemampuan diri yang berasal dari kesadaran yang paling dalam yang dibarengi pengukuran kekuatan jati diri sendiri.

Kalau dipahami secara mendalam hakikat Usaha dan Perjuangan yang dilakukan oleh siapa pun secara terus menerus merupakan bagian dari proses pantang menyerah dalam menuju gerbang kesuksesan dan keberhasilan yang seharusnya diraih. Kalimat ini sepertinya mudah diucapkan kenyataannya sulit untuk direalisasikan, apalagi dalam kondisi hati dan jiwa yang sedang mengalami kegelisahan dan kebimbangan jati diri yang mendalam.

Memahami keinginan dan kehendak yang selalu hadir dalam jasadi dan rohani setiap manusia tidak lah mudah, seperti semudah membalikan kedua belah telapak tangan. Memaknai arti keinginan yang sudah menjadi kodrati, hakikatnya butuh kedewasaan cara berpikir serta kematangan bersikap karena idealnya tidak semua keinginan harus diwujudkan jadi kenyataan terkadang barometernya adalah dari sikap bagaimana seseorang mampu mengoptimalkan penglihatan melalui panca inderanya sebagai sumber utama untuk mewujudkan setiap keinginan yang logis dan rasionalis.

Sebaliknya memahami kehendak pun idealnya harus selalu berangkat dari kesucian dan kesadaran jati diri yang bersumber dari kejernihan hati karena kehendak diumpakan pesan inti sanubari yang mampu menyadarkan diri sekalipun kondisi jasadi tidak dalam posisi optimalisasi. Setidaknya kehendak yang di iringi kesucian diri selalu pasti mampu menyadarkan diri sendiri, kehendak yang muncul dalam diri seperti kasih sayang ilahi kepada setiap insani yang harus mampu di optimalisasi.

Ikhtiar dalam mencari jodoh pun, membutuhkan optimalisasi keinginan dan kehendak dalam diri agar tujuan dan orientasi bisa tercapai sepenuh hati, Tuhan selalu berhendak hambaNYa memiliki keinginan yang kuat dalam menunaikan segala bentuk perintahNya dan anjuran sunnah dari NabiNya, salah satunya adalah dalam hal mencari jodoh. Tuhan tidak pernah menganjurkan hambaNya hanya berpasrah diri pada takdir ketentuanNya, akan tetapi diperintahkan juga untuk terus berusaha dalam bentuk ikhtiar dan munajat doa sebagai bentuk konsistensi terhadap kemaha kuasaan Tuhan yang selalu hadir sebagai anugerah kasih sayang ilahi di momen-momen krusial.

Banyak orang berkata bahwa jika memang berjodoh, dua orang pasti akan dipertemukan kembali. Kalimat itu terdengar menenangkan, tetapi sering kali membuat seseorang hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Seolah takdir akan bekerja sendirinya tanpa usaha, tanpa keberanian, dan tanpa langkah yang nyata. Padahal dalam banyak hal, kehidupan mengajarkan bahwa sesuatu yang berharga tidak selalu datang kepada mereka yang hanya menanti.

Kisah manusia pertama sering dipahami sebagai pelajaran tentang pertemuan, tetapi juga tentang pencarian. Setelah dipisahkan, mereka tidak hanya duduk diam sambil menunggu takdir mempertemukan kembali. Ada perjalanan, ada usaha, dan ada kerinduan yang membuat keduanya terus mencari. Dari sana muncul sebuah pemahaman sederhana bahwa takdir memang milik Tuhan, tetapi usaha tetap menjadi bagian yang harus dilakukan oleh manusia. Menunggu tanpa bergerak bukanlah bentuk tawakal, melainkan sering kali hanya ketakutan yang dibungkus dengan kata sabar.

Mungkin jodoh memang sudah ditetapkan, tetapi jalan menuju pertemuan sering kali membutuhkan langkah. Sama seperti rezeki yang telah ditentukan namun tetap harus dicari, hubungan yang baik juga membutuhkan keberanian untuk memperjuangkannya. Karena pada akhirnya, hidup tidak hanya tentang percaya bahwa sesuatu akan datang pada waktunya, tetapi juga tentang kesiapan untuk berjalan menuju apa yang sedang ditakdirkan untuk kita temui.

Kalau lah bahasanya di sederhanakan lagi, sifat keinginan adalah nafsu yang berasal dari inderawi, semakin mampu seseorang mengendalikan penglihatan inderawi maka besar kemungkinan minim sekali keinginan yang akan muncul dalam diri.
Sedangkan kehendak adalah manifestasi pesan ilahi yang selalu hadir dalam diri fungsinya untuk mengoptimalisasi dan mengaktualisasikan diri sesuai standar nasional ilahi (sni). Melalui kehendak dalam diri manusia perwujudan pesan ilahi menyatu menjadi manifestasi yang luhur budi selalu berorientasi ukhrowi.[]

Baca Juga:  PROUI Dukung Prabowo Libatkan Kampus Benahi Tata Kelola Kopdes Merah Putih

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB