BInanews.id | Bogor – Tokoh masyarakat Kabupaten Bogor, H. Cecep Gogom menilai pemuda Islam Indonesia saat ini berada pada fase yang sangat menentukan. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, perubahan sosial yang cepat, serta meningkatnya persaingan global, generasi muda Muslim memiliki peluang besar untuk menjadi motor perubahan bangsa. Akan tetapi, potensi tersebut harus diimbangi dengan karakter yang kuat, penguasaan ilmu pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah pemuda Muslim yang melimpah, kreativitas yang tinggi, serta akses terhadap informasi dan teknologi yang semakin terbuka. Banyak pemuda telah menunjukkan prestasi di bidang pendidikan, kewirausahaan, teknologi, sosial, hingga dakwah digital. Meski demikian, tantangan abad ke-21 juga semakin kompleks dan menuntut kesiapan yang lebih matang.
“Pemuda Islam tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan. Mereka harus menjadi pelaku perubahan dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaannya,” ujar Cecep.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Islam seperti kejujuran, amanah, kerja keras, kepedulian sosial, serta semangat menebarkan rahmat bagi seluruh alam harus menjadi fondasi bagi generasi muda dalam menghadapi era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan pemuda dari nilai agama, tetapi justru menjadi sarana untuk memperluas manfaat bagi masyarakat.
Tantangan Moral, Sosial, dan Teknologi
Cecep Gogom menjelaskan bahwa tantangan terbesar pemuda Islam saat ini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri mereka sendiri. Dari sisi moral, derasnya arus informasi melalui media sosial membawa berbagai nilai, budaya, dan gaya hidup yang tidak semuanya sejalan dengan ajaran Islam maupun budaya bangsa.
“Batas antara yang baik dan yang buruk sering kali menjadi kabur. Jika pemuda tidak memiliki pondasi akidah, akhlak, dan karakter yang kuat, maka mereka mudah terpengaruh oleh arus informasi yang begitu deras,” katanya.
Di sisi sosial, meningkatnya individualisme, menurunnya budaya gotong royong, serta munculnya polarisasi akibat perbedaan pandangan menjadi persoalan yang perlu diwaspadai. Selain itu, masih banyak pemuda yang menghadapi pengangguran, kesenjangan ekonomi, akses pendidikan yang belum merata, hingga tekanan kesehatan mental akibat tuntutan kehidupan modern.
Sementara dari sisi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), otomatisasi, dan transformasi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan. Teknologi memang menghadirkan peluang besar, tetapi juga membawa risiko seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, penipuan digital, kecanduan media sosial, hingga berkurangnya interaksi sosial secara langsung. Menurutnya, pemuda Islam tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Mereka harus didorong menjadi inovator, pencipta solusi, dan pengembang teknologi yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Bijak Menghadapi Era Digital
Bagi Cecep Gogom, era digital bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi harus disikapi dengan bijaksana. Teknologi dan media sosial pada dasarnya hanyalah alat dan yang menentukan apakah alat tersebut membawa manfaat atau mudarat adalah bagaimana manusia menggunakannya. Ia menekankan pentingnya pondasi keimanan dan akhlak yang kuat sebagai kompas dalam menggunakan teknologi. Setiap informasi yang diterima perlu disaring, setiap konten yang dibagikan harus dipertanggungjawabkan, dan setiap aktivitas digital hendaknya mencerminkan akhlak seorang Muslim yang menjunjung tinggi kejujuran, kesantunan, dan penghormatan kepada sesama.
Selain itu, pemuda Islam harus meningkatkan literasi digital agar mampu membedakan fakta dan hoaks, memahami etika bermedia sosial, serta berpikir kritis sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi. Prinsip tabayyun atau melakukan klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan dinilai sangat relevan di tengah banjir informasi saat ini.
“Media sosial tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, inspirasi, semangat persaudaraan, dan nilai-nilai kebaikan. Pemuda Islam harus menjadi kreator konten yang mencerdaskan dan menghadirkan solusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk menguasai teknologi sebagai bekal masa depan. Dunia, kata dia, sedang bergerak menuju era AI, big data, robotika, dan ekonomi digital. Oleh karena itu, pemuda perlu memiliki kemampuan di bidang-bidang tersebut agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas sebagai Muslim dan warga Indonesia.
Membangun Mentalitas Kepemimpinan
Menurut Cecep Gogom, salah satu persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini bukanlah kurangnya potensi, melainkan kurangnya arah, visi, dan ruang untuk mengaktualisasikan diri. Banyak anak muda yang cerdas dan berbakat, tetapi belum menemukan tujuan hidup yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Oleh karena itu, membangun mentalitas kepemimpinan harus dimulai dari kesadaran tentang makna hidup dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Pemuda perlu memiliki visi hidup yang jelas, terus belajar, berkarya, dan berkontribusi bagi umat serta bangsa.
Ia menilai mental kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui teori. Pemuda perlu diberikan kesempatan untuk memimpin organisasi, mengelola kegiatan sosial, membangun usaha, menjadi relawan, hingga terlibat dalam penyelesaian persoalan masyarakat. Kepemimpinan tumbuh ketika seseorang diberi kepercayaan, menghadapi tantangan, belajar mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.
“Kepemimpinan bukanlah tentang jabatan, melainkan tentang pengaruh, keteladanan, dan pengabdian. Pemuda yang memiliki iman, akhlak, ilmu, serta komitmen untuk melayani masyarakat akan tumbuh menjadi pemimpin yang membawa perubahan positif,” tuturnya.
Pesan untuk Pemuda Islam
Sebagai penutup, Cecep Gogom mengajak seluruh pemuda Islam Indonesia untuk tidak ragu menghadapi perubahan zaman. Ia menekankan agar generasi muda terus memperkuat iman, memperluas ilmu, menguasai teknologi, sekaligus menjaga akhlak dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, ukuran keberhasilan seorang pemuda bukan hanya jabatan yang diraih atau kekayaan yang dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan dan derasnya provokasi di media sosial.
“Jadilah pemuda yang memiliki iman yang kuat, ilmu yang luas, dan akhlak yang mulia. Jangan hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi hadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” pesannya.
Di akhir wawancara, Cecep Gogom menyampaikan optimismenya terhadap masa depan Indonesia. Dengan pembinaan karakter, pendidikan yang berkualitas, pengalaman kepemimpinan, dan penguasaan teknologi, ia meyakini Indonesia akan melahirkan generasi pemimpin Islam yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang religius dan berbudaya.
“Jadilah pemuda Islam yang hadir bukan sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai pembuat sejarah,” pungkasnya.[]
Editor : Fathurroji









