Binanews.id | Bogor–Kegiatan menganyam kembali menghidupkan keterampilan kerajinan tradisional di tengah masyarakat Desa Gunung Malang. Kegiatan ini digelar sebagai sarana belajar sekaligus upaya mengenalkan potensi kerajinan lokal yang masih relevan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Peserta diajak memahami langsung proses pembuatan anyaman, mulai dari tahap awal hingga menjadi kerajinan yang siap pakai.
Kegiatan ini dipandu oleh Ibu Minah, pemilik bahan anyaman yang juga bertindak sebagai instruktur teknik dasar pembuatan anyaman. Dengan telaten, Ibu Minah menjelaskan cara mempersiapkan bahan, menentukan pola, hingga menyusun setiap bagian agar anyaman yang dihasilkan kuat dan rapi.
Ilmu ini menjadi kesempatan berharga bagi peserta untuk mengenal warisan keterampilan yang telah diturunkan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Praktik langsung diikuti oleh Nina Nirmala dan Salsabila Aurelia, yang mencoba teknik menganyam sesuai arahan yang diberikan. Keduanya mengikuti setiap tahapan dengan saksama, mulai dari menyusun bahan dasar, menyelipkan anyaman secara berselang-seling, hingga merapikan bentuk agar sesuai pola.
Dari proses ini, peserta belajar bahwa menganyam bukan sekadar keterampilan tangan, melainkan juga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketekunan.
Kegiatan ini turut didukung oleh Bapak Baban, Ketua RW Desa Gunung Malang, yang ikut membimbing dan membantu peserta saat mengalami kesulitan menyusun bahan anyaman.
Keterlibatan warga setempat menjadi bukti nyata dukungan masyarakat terhadap pelestarian kerajinan tradisional, sekaligus membuka ruang berbagi pengetahuan antargenerasi.
Anyaman yang dibuat dalam kegiatan ini diarahkan menjadi tampah, peralatan rumah tangga tradisional yang serbaguna. Selain fungsi praktisnya, tampah hasil anyaman ini juga menyimpan nilai seni tersendiri karena dibuat secara manual, sehingga setiap hasilnya memiliki karakter dan keunikan masing-masing.
Selain tampah, warga Desa Gunung Malang juga memanfaatkan potongan bambu untuk dibuat menjadi tusuk sate. Tusuk sate hasil olahan tersebut dijual dengan harga Rp 4.000 untuk setiap 1.000 tusuk, menjadikannya salah satu produk kerajinan bambu yang turut menambah nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Pemanfaatan bahan lokal seperti ini pun berpotensi dikembangkan menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
Lebih dari sekadar menghasilkan tampah, kegiatan menganyam di Desa Gunung Malang menjadi sarana untuk mengenal dan menjaga eksistensi kerajinan tradisional.
Melalui praktik langsung, peserta memetik pengalaman berharga tentang pentingnya ketelitian, kreativitas, dan kesabaran dalam berkarya. Semangat ini diharapkan terus tumbuh dan berkembang, menjadikan kerajinan anyaman sebagai bagian dari potensi lokal Desa Gunung Malang yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus berpeluang menjadi produk bernilai jual.









