Binanews.id | Bogor- TNI mengerahkan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) dalam operasi kesiapsiagaan di Sulawesi Utara untuk mendukung pengamanan KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada 7-8 Mei 2026.
Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari kesiapan rutin operasi TNI dalam menghadapi berbagai kemungkinan situasi di kawasan ASEAN.
Dalam operasi kesiapsiagaan tersebut, TNI mengerahkan pasukan dari matra Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.
Berbagai alutsista juga disiapkan, termasuk lima pesawat tempur F-16, pesawat angkut Hercules, Airbus A400M, serta tiga kapal perang Republik Indonesia (KRI), yakni KRI Brawijaya, KRI Siliwangi, dan KRI RE Martadinata.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemenhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan, kesiapsiagaan tersebut digelar di wilayah nasional dan melibatkan unsur gabungan TNI.
Rico menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk kesiapan rutin operasi TNI.
Tujuannya untuk memastikan TNI siap merespons berbagai kemungkinan situasi yang dapat terjadi di kawasan ASEAN, terutama saat berlangsungnya agenda strategis tingkat regional.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kesiapan rutin operasi TNI dalam menghadapi berbagai kemungkinan situasi yang dapat terjadi di kawasan ASEAN,” kata Rico.
Kesiapsiagaan tersebut juga menjadi sarana untuk menguji kemampuan koordinasi antarsatuan atau interoperabilitas.
Selain itu, TNI menguji mobilitas pasukan, kemampuan pengamanan VVIP, serta respons cepat terhadap kondisi darurat.
“Kegiatan ini juga melibatkan unsur darat, laut, dan udara untuk menguji interoperabilitas, mobilitas pasukan, dan kemampuan pengamanan VVIP, serta respons cepat terhadap kondisi darurat,” ujarnya.
Pengerahan pesawat tempur, pesawat angkut, serta kapal perang dilakukan untuk memastikan kesiapan unsur TNI dalam mendukung pengamanan kawasan dari wilayah nasional.
Operasi ini juga menunjukkan kesiapan TNI dalam melakukan respons cepat jika terjadi situasi darurat yang membutuhkan dukungan lintas matra.
Rico menegaskan, seluruh kegiatan dilakukan secara terukur dan profesional.
TNI juga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap pelaksanaan operasi kesiapsiagaan.
“Seluruh kegiatan dilaksanakan secara terukur, profesional, dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta penghormatan terhadap kedaulatan negara sahabat,” kata Rico.
Menurut Rico, Indonesia memandang stabilitas dan keamanan kawasan sebagai tanggung jawab bersama negara-negara ASEAN.
Karena itu, kesiapsiagaan TNI tidak hanya ditujukan untuk mendukung agenda KTT ASEAN, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga situasi kawasan tetap aman dan kondusif.
“Indonesia memandang stabilitas dan keamanan kawasan sebagai tanggung jawab bersama negara-negara ASEAN,” ujarnya.
Rico menambahkan, kesiapsiagaan TNI ini merupakan bentuk dukungan Indonesia terhadap suksesnya agenda-agenda strategis ASEAN.
Stabilitas kawasan dinilai penting agar kerja sama antarnegara ASEAN dapat berjalan dengan baik.
“Karena itu, kesiapsiagaan TNI dalam konteks ini merupakan bagian dari kontribusi Indonesia untuk mendukung terciptanya situasi kawasan yang aman, kondusif, dan mendukung suksesnya agenda-agenda strategis ASEAN,” kata Rico









